Recent Posts

Thursday, 18 January 2018

[Day 4][Level 3] Games Bunda Sayang : Kami Bisa

Hampir seminggu lebih krucil di rumah gantian sakit. Dari #babykoala kena muntaber dan menyusul Zalfa. Hiks.

"Aduuuh aduuh mamaa...perut Japa cakiiittt" tangisnya setelah muntah beberapa kali.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Zalfa terlihat lemas, gak seceria biasanya.

Meski alhamdulillah saat di rumah sakit, kondisinya agak mendingan. 
"zalfaa ntar diperiksa pak dokter sebentar ya. Zalfa berani kan?"
"Iyaa..Japa berani koq" ucapnya mantap.

Dan memang benar, selama di ruangan dokter, Zalfa kooperatif sekali. Sampai dokter komentar
"Arek iki gak duwi wedhi ya". heheh.

Begitu sampai rumah, sibuk dia. Cuci tangan cuci kaki sendiri. 
"Kata pak dokter Japa mesti rajin cuci tangan cuci kaki, ma. Mana obat Japa? yuk kita minum yuk, ma. Japa mau sehat nih".

aamiiin. sehat ya, ndhuuk

#tantangan_hari_ke-4
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa
Read More..

[Day 3][Level 3] Games Bunda Sayang : Kami Bisa

Bila biasanya Zalfa yang merengek dengan kakaknya. Pas kedatangan uwaknya, dia belajar berbagi menghadapi sepupu kecilnya. 
"Dedek Ena mauu ituuu" ucap Hanina menunjuk salah satu mainan anak-anak. 
"Ndak boleeh itu punya Japaaa" celetuk Zalfa.

"Kakak Zalfa, dd Hanina boleh main bareng?"
"Boleeh tapi Japa yang pegang (mainannya)"
"Iya Zalfa pegang mainannya, gantian tapi boleh ya nak. Zalfa mau gantian pegang mainannya sampe hitungan 10 atau 15?"
"Japa mau sampe hituung yang banyaaakk" ucapnya sambil menunjukkan 10 jari. 
"Oh..sampe 10 ya, okee..yuk kita hitung ya. 1..2..3. . ..10!. Horee..sudah 10. Boleh gantian ke dedek Hanina?"
"Iya boleeh" jawabnya sambil meminjamkan mainannya ke adik sepupunya. 
"Terima kasih Zalfa sudah mau berbagi"

#tantangan_hari_ke-3
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa
Read More..

Sunday, 14 January 2018

[Day 2][Level 3] Games Bunda Sayang : Kami Bisa

Mengerjakan pekerjaan rumah dengan melibatkan anak memang agak riewuh. Namun, dengan dilibatkan anak belajar banyaaak sekali hal. Tanggung jawab, empati, dan sebagainya.

"Zalfa, mama mau cuci piring, Zalfa mau ikut bantuin mama?" ajak saya.
"Mauuu. Japa yang cuci sendoknya ya, ma"
"Siaaap"
"Nanti Japa juga bantu taroknya"
"Okeee"

Beberapa kali diajakin membantu saya mencuci piring, akhirnya Zalfa jadi malah suka nawarin sendiri.
"Mama...japa bantuin cuci piring yaa"
okee..makasih sayang.

Meski mencuci piring plus gendong anak bayi di belakang cukup menguras tenaga (dan kadang emosi) tapi Zalfa alhamdulillah bisa melakukannya. Sama2 belajar ya, nak.

#tantangan_hari_ke-2
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Read More..

[Day 1][Level 3] Games Bunda Sayang : Kami Bisa

Game level 3 ini membuat saya tertegun cukup lama, bingung mulai darimana dan dengan siapa.

Karena mayoritas waktu harian saya habiskan bersama Zalfa yang belum sekolah jadi partner game level ini saya putuskan adalah Zalfa.

Game dimulai ketika kakak kedua saya berlibur di Surabaya bersama keluarganya.

Hari pertama kami bermain ke Kebun Bibit.

"Zal, rusa Zal...yuk kasih makan yuk" ajak saya.
"Ndaaak mauuu Japa takuut" tolaknya.
Berbeda dengan Khanza yang berani mencoba hal2 baru dengan adrenalin tinggi. Seperti flying fox, pegang ular, pegang kadal, panjat kayu, dll. Zalfa cenderung lebih hati2.

"Sini mama temenin kasih kacang panjangnya".
Saya menggandeng tangannya dan mengajaknya memberi makan rusa.
Zalfa terlihat masih takut dan khawatir
"Sama mama koq, nak. Gpp"
Dan saat rusa mengambil kacang panjang di tangan kami, Zalfa terlihat girang.
"Hihihi rusanya makan kacangnya ya, ma"
"Zalfa mau kasih makan sendiri?"
"Ndak ndak usah...sama mama aja"

Heheh oke lha, nak. Pelan-pelan ya. Semoga kunjungan berikut Zalfa berani coba kasih makan rusa sendiri ya.

#tantangan_hari_ke-1
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa
Read More..

[Bunda Sayang] [Level 3] Kami Bisa : Prolog

IQ ( Intellegence Quotient)

Dahulu, orang dengan IQ tinggi dianggap jenius dan cerdas. Dan mereka dengan IQ rata2 atau bahkan dibawah rata2 dianggap bodoh.

Untungnya puluhan tahun kemudian, ditemukan tentang multiple intelegence. Tak tanggung-tanggung. Ada 8 multiple intelegence yang pada dasarnya ada dalam manusia dan siap dikembangkan, apalagi ketika masa golden age.

8 Multiple intelegence : 
- Kecerdasan Linguistik (Word Smart : cerdas berbahasa)
- Kecerdasan Matematik-Logis (Number Smart : cerdas angka)
- Kecerdasan Spasial (cerdas gambar)
- Kecerdasan Kinestetik- Jasmaniah (Body Smart : cerdas tubuh)
- Kecerdasan Musikal (cerdas musik – nada suara)
- Kecerdasan Interpersonal ( Self Smart : cerdas diri)
- Kecerdasan Intrapersonal (People Smart ; cerdas bergaul)
- Kecerdasan Naturalis (cerdas alam)

Namun, kecerdasan tersebut ternyata hanya menyumbang poin yang sedikit dalam keberhasilan, yang banyak mempengaruhi adalah kecerdasan emosi ( emotional intellegence/EQ)

EQ (Emotional Quotient)

Kecerdasan Emosi  / Cerdas secara emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik dan dalam berhubungan dengan orang lain.

Kecerdasan Emosi dibagi menjadi 5 kategori:

1. Kesadaran diri; kecerdasan emosi diri menilai pribadi dan percaya diri.
2. Pengaturan diri; pengendalian diri, sikap dapat dipercaya, waspada,adaftif dan inovatif.
3. Motivasi; dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimisme.
4. Empati; memahami orang lain, pelayanan, membantu pengembangan orang lain, menyikapi perbedaan dan kesadaran politis.
5. Keterampilan sosial; pengaruh keterampilan berkomunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik, keakraban, kerjasama dan kerja tim.

Dan kecerdasan lain yang utama adalah kecerdasan spiritual.

SQ (Spiritual Quotient) 

Kecerdasan spiritual adalah sumber yang mengilhami, melambungkan semangat dan mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu (Agus Nggermanto, 2001)

Lalu M. Zuhri menambahkan bahwa SQ merupakan kecerdasan yang digunakan untuk ‘berhubungan’ dengan Tuhan Sang Maha Kuasa.

AQ (Adversity Quotient)

Dan selain 3 tipe kecerdasan, ada juga AQ ( Adversity Quotient). Secara umum, AQ menentukan kadar kemampuan seseorang mengatasi kemelut tanpa putus asa.

Penemu teori AQ, Paul G Stoltz membagi AQ menjadi 3 tipe
1. Tingkat “Quitters” (orang-orang yang berhenti)

Quitters adalah orang yang paling lemah AQnya.

Ketika menghadapi kesulitan hidup, mereka berhenti dan langsung menyerah. Mereka memilih untuk tidak mendaki, mereka keluar, mundur dan menghindar dari kewajiban/tugas-tugas hidup. Mereka tidak memanfaatkan peluang, potensi dan kesempatan dalam hidup.

Contoh: seorang individu yang tidak berkutik, hanya mengeluh ketika ditimpa kondisi buruk seperti penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dll.

2. Tingkat “Campers” (orang yang berkemah)

Campers adalah AQ tingkat sedang.

Awalnya mereka giat mendaki, berjuang menyelesaikan tantangan hidup, namun di tengah perjalanan mereka berhenti juga. Mereka telah jenuh dan bosan, merasa sudah cukup, mengakhiri pendakian dengan mencari tempat yang datar dan nyaman.

Contoh: seorang yang mengira bahwa sukses itu adalah yang penting sudah naik kelas/lulus, meskipun pas-pasan saja. Sudah punya harta/jabatan bagus sudah cukup, sukses di dunia sudah cukup!.

3. Tingkat “Climbers” (orang yang mendaki)

Climbers adalah pendaki sejati.

Orang yang seumur hidup mencurahkan diri kepada pendakian hidup. Mereka paham dan sadar bahwa sukses itu bukan hanya dimensi fisik material, tetapi seluruh dimensi fisik, moral, sosial, spiritual, dstnya.

Mereka adalah orang yang selalu mencari hakikat hidup, hakikat manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dan akan kembali kepada Sang Maha Pencipta. Mendaki hidup abadi yang jauh lebih panjang.

Untungnya AQ adalah sesuatu yang bisa diasah,

AQ bukanlah anugerah (given) tapi bisa dipelajari melalui latihan tertentu yang bisa diinstall pada diri kita.

Berikut aspek perkembangan yang harus diperhatikan untuk memupuk AQ climber putra putri kita :
1. Fisik dan kesehatan
2. Daya tahan mental
3. Kestabilan emosi
4. Kemampuan sosial
5. Keimanan dan ibadah kepada Allah
6. Keterampilan dan seksualitas yang normal

Berikut 6 cara untuk meningkatkan AQ :
1. AQ on TV : belajar menarik hikmah dari karakter tayangan di televisi (misal : sinetron, iklan, berita, dll) melalui penajaman indera penglihatan
2. AQ on radio : belajar menajamkan indera pendengaran dan memperhatikan bagaimana sesorang mendiskripsikan sesuatu hingga tervisualisasi gambaran topik acara yang disampaikan.
3. AQ in conversation : belajar menyimak diskusi
4. Reading for AQ : belajar bagaimana karakter penulis
5. AQ in art : belajar bagaimana orang berkomunikasi melalui seni
6. AQ on the net : eksplor iklan dan analisa bahasa yang digunakan orang lain untuk mempromosikan bisnisnya. Perhatikan bagaimana kontrol website tersebut terhadap perhatian kita.

IQ, EQ dan SQ idealnya mesti seimbang.
Sekarang bagaimana caranya saya mengembangkan potensi anak2 agar bisa memiliki kecerdasan yang seimbang dan memiliki mental Climber.

osshh..semangaaat.

Bismillah...






Read More..

Sunday, 24 December 2017

[Aliran Rasa][Level 2] Melatih Kemandirian Anak

Di Materi kedua ini saya jadi menyadari kurangnya tantangan yang saya(kami) berikan kepada anak-anak agar mereka mandiri.

Dan ternyata Melatih kemandirian membutuhkan konsistensi, komunikasi Dan kerjasama orang dewasa sekitar untuk memandirikan anak. Akan sangat melelahkan bila diprogram sendiri karena aturan bentrok kanan Kiri.

Mulai dari hal terkecil yang penting konsisten. Karena kemandirian adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya. 

#Aliranrasa
#Level2
#KuliahBunsayIIP
#MelatihKemandirian
Read More..